7 Fakta Unik Vladimir Lenin, Pendiri Uni Soviet yang Belum Diketahui

7 Fakta Unik Vladimir Lenin, Pendiri Uni Soviet yang Belum Diketahui

7 Fakta Unik Vladimir Lenin, Pendiri Uni Soviet yang Belum Diketahui , Berbicara mengenai sejarah Rusia dan terbentuknya Uni Soviet, tentunya tidak asing ketika menyebutkan nama Vladimir Lenin.

Tokoh ini merupakan pendiri Uni Soviet, negara terbesar di dunia pada saat itu. Meskipun pada akhirnya, tahun 1991 negara ini mengalami keruntuhan dan pecah menjadi negara-negara kecil. Selain tentang jasanya dalam membangun negara Uni Soviet, Lenin mempunyai fakta-fakta yang menarik mengenai dirinya.

4 Poin Mengejutkan Pertama

Ada 3 fakta mengejutkan tentang Lenin, yakni;

7 Fakta Unik Vladimir Lenin bukan nama asli

Nama Lenin bukanlah nama asli dari sosok yang berjasa membangun negara Uni Soviet ini. Pada awalnya, namanya adalah Vladimir  Ilich Ulyanov.

Nama Lenin dipakai ketika ia mulai aktif melakukan kegiatan gerakan yang menentang pemerintahan monarki Rusia sebagai nama samaran.

Nama Lenin sendiri merupakan nama samaran yang kesekian kalinya yang kemudian pada tahun 1902 baru ia tetapkan menjadi nama barunya.

Kakaknya dieksekusi aparat Rusia

Dalam keluarga Lenin, bukan hanya dia saja yang mempunyai sikap antipati terhadap pemerintahan monarki Rusia. Kakaknya, Alexander juga mempunyai sikap yang sama dengannya.

Kendati dalam meluapkan perasaan tersebut Alexander ikut dalam perencanaan pembunuhan kaisar Rusia di Maret 1887.

Akan tetapi rencana pembunuhan tersebut tidak berhasil dilaksanakan dan anggota yang terlibat tertangkap oleh pihak kepolisian. Sehingga pada akhirnya ia mendapatkan hukuman gantung pada bulan Mei 1887.

7 Fakta Unik Vladimir Lenin Pernah dikeluarkan dari kampus

Beberapa bulan pasca kematian kakaknya, Lenin mulai menempuh kuliah di jurusan hukum Universitas Kazan.

Akan tetapi, baru beberapa bulan mengenyam bangku perkuliahan, ia dikeluarkan dari kampus tersebut karena ikut terlibat aksi protes mahasiswa.

Setelah itu, Lenin mendaftarkan diri di Universitas St. Petersburg dan menamatkan pendidikannya di kampus tersebut.

7 Fakta Unik Vladimir Lenin Salah Satunya Karl Marx inspirasi utamanya

Lenin mengidolakan Karl Marx dalam hal pemikirannya. Bahkan Lenin juga menyatakan pendapat mengenai Marxisme yang paling benar menurutnya.

Ciri dari Marxisme yang dianut dan dinyatakan oleh Lenin adalah mengenai pentingnya peran golongan intelektual dalam hal untuk meminpin revolusi.

Dengan keberadaan golongan intelektual tersebut, golongan pekerja akan dapat digerakkan untuk mendapatkan revolusi yang menciptakan komunitas berbasis sosialis.

3 Fakta Miris Tentang Lenin

Selain 3 fakta di atas, ada fakta miris tentang Lenin, yaitu;

Pernah diasingkan di Siberia

Setelah menerbitkan esainya yang pertama mengenai Marxisme, Lenin ditangkap oleh aparat Rusia setelah melakukan perjalanan untuk mendapat pengetahuan ke Jerman, Prancis dan Swiss. Lenin dipenjara hampir selama setahun sebelum kemudian diasingkan ke Seberia hingga tahun 1900.

Nyaris tewas terkena tembak

Lenin mendapatkan serangan tembakan setelah melakukan pidato di Moskow pada bulan Agustus 1918 dan menderita luka yang parah. Kemudian pada tahun 1921 Lenin menderita sakit parah yang diperkirakan merupakan inveksi akibat serpihan logam peluru yang pernah ia dapatkan.

Hingga akhirnya pada tahun 1924 Lenin mengalami koma dan meninggal di hari yang sama.

Jasadnya diawetkan dan jadi tontonan publik

Ketika mendapatkan kabar kematian dari Lenin, beribu orang kemudian berdatangan untuk melakukan penghormatan terakhir bagi jasadnya.

Mayat Lenin sendiri sesudah itu tidak dikebumikan, melainkan diawetkan agar sosoknya dapat dijadikan sebagai sebuah simbol. Proses pengawetan ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil yang membuat tubuh Lenin awet selama mungkin.

Setelah itu, didirikan pula bangunan khusus yang terletak di Lapangan Merah Moskow untuk meletakkan dan memajang jasad Lenin.  Jasad tersebut diletakkan di dalam sebuah gedung makam raksasa yang dapat dilihat oleh masyarakat umum hingga sekarang. Ketika meletus Perang Dunia II, jasad ini sempat direlokasi ke Siberia mulai tahun 1941 hingga 1945 sebagai bagian dari antisipasi terhadap jasad tersebut.

Petinggi TNI dan Polri Maju Pilkada 2018, Baik atau Buruk?

Beberapa jenderal dan juga perwira TNI akan ikut berlomba dan bertarung pada Pikada 2018 setelah pada pilkada DKI Jakarta sebelumnya Agus Yudhoyono mengundurkan dirinya sebagai TNI agar bisa bersaing dalam Pilkada Jakarta. Apa pencalonan anggota Polri dan juga TNI ini sebagai tanda bahwa adanya sebuah tren kembalinya kedua institusi ini di ranah politik praktis Indonesia?

Beberapa TNI dan Polri Maju Unjuk Gigi

Salah satu contohnya adalah Pangkostrad TNI Letjen Edy Rahmayadi yang akan mencalonkan dirinya sebagai calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2018 esok. Ia adalah salah satu dari beberapa perwira TNI dan juga jenderal polisi yang bakal mengikuti Pilkada di tahun 2018 mendatang.

Saat ditanya soal dirinya yang mencalonkan diri, Edy menjawab, “Mau membangun Sumatera Utara. Sumatera Utara kan itu provinsi yang besar. Di saat saya SMA, itu nomor 3 di Indonesia. nomoer satunya Jakarta, lalu yang kedua Surabaya. Yang ketiga Sumatera Utara. Saat ini Sumut di nomor ke-24 dari 34 provinsi.”

Selain Edy, pasalnya masih ada juga beberapa anggota Polri dan TNI yang mana masih aktif dan akan bersaing di Pilkada 2018 mendatang. Contoh yang lainnya adalah Murad Ismail yang mana akan maju di Maluku. Selain itu ada Irjen Safaruddin yang mencalonkan diri di Kalimantan Timur. Infantri David Sauradi yang mencalonkan diri di Bengkulu dan juga ada AKBP Ilyas di kota Bau-Bau.

Bertentangan dengan Kenetralan TNI dan Polri

Titi Anggraini, sebagai pakar demokrasi, mengatakan bahwa pencalonan petinggi TNI dan Polri itu sebenarnya bertentangan dengan netralitas yang mana harus dipegang oleh kedua institusi ini. “Regulasi kita, baik di UU Pilkada, dan juga di UU Pemilu, mengatur tentang netralitas dan juga profesionalisme TNI dan Polri di dalam Pilkada serta Pemilu. Namun sayang sekali, persoalan netralitas yang mana sangat penting ini dipersempit seakan-akan TNI Polri itu netral apabila ia ingin maju sebagai calon kepala daerah atau pun calon kepala calon legislative atau bahkan calon presiden, cukup dengan mundur saat mendaftarkan diri,” ungkap Titi.

Ia juga berpendapat, sebelum mereka memutuskan untuk mengajukan diri, maka biasanya calon-calon sudah menjalin komunikasi Bandar togel online dengan beberapa partai politik dan itu juga secara etika pastinya melanggar netralitas itu.

Edy Rahmayadi sendiri juga mengaku bahwa dirinya sudah memutuskan untuk maju ke pemilihan gubernur Sumatera Utara pada bulan Juni lalu. akan tetapi dirinya baru 1 bulan yang lalu menjalin komunikasi dengan partai politik. “Rakyat, tokoh-tokoh datang dan akhirnya ya, saya mau, tertarik. Tanggal 1 Juni 2017 itu saya menyatakan bahwa iya. Kalau parpol sih baru 1 bulan yang lalu,” akunya. Ia menambahkan bahwa ia telah mengundurkan diri dan sudah mendapatkan persetujuan dari Panglima TNI yakni Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Salah satu anggota dari Indonesia Police Watch, Neta Pane, justru berpendapat sebaliknya. Menurut dirinya pencalonan anngota TNI Polri itu justru bagus dan bahkan bisa mendorong lebih banyak lagi calon pemimpin daerah dari kedua institusi itu. ia menganggap bahwa semakin banyak anggota yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah dari kedua institusi itu berarti kepercayaan masyarakat semakin meningkat kalau mereka bisa memenangkan pilkada tersebut. bahkan tidak mustahil, menurutnya, jika kepercayaan masyarakat pada TNI dan Polri akan tumbuh dan juga berkembang dengan adanya pencalonan mereka itu.