Bantul Gempar, Wanita Tuna Wicara Tewas Dirampok dan Diperkosa

Hari Sabtu (18/11) pagi kemarin, warga Bantul mendadak gempar atas penemuan mayat seorang perempuan dalam kondisi janggal. Dalam penelusuran diketahui jika mayat itu adalah Utami Dwi Cahyo. Perempuan berusia 26 tahun itu tinggal di dusun Plawonan, Argomulyo, Sedayu, Bantul. Semakin miris karena Utami adalah perempuan difabel di mana dia adalah tuna wicara dan rungu.

 

Mayat Utami ditemukan oleh kakaknya sendiri, Eka Rinangsih yang berkunjung ke rumah Utami pada pukul sembilan pagi. Sesampainya di rumah korban, Eka menyadari kondisinya sepi karena orangtua mereka tengah berjualan di pasar. Eka pun berusaha membuka pintu samping sisi timur yang ternyata semuanya terkunci. Setelah masuk lewat pintu depan, Eka mulai curiga karena kondisi rumah benar-benar sepi. Eka yang hendak mengajak Utami jalan-jalan inipun melihat pintu kamar korban terbuka setengah dan dia melihat tubuh Utami terlentang tanpa busana di depan lemari. Mengetahui tubuh korban sudah dingin, Eka langsung keluar dan meminta bantuan warga setempat.

 

Melihat kejanggalan dalam mayat Utami, Kapolsek Sedayu yakni Kompol Sugiarta menyebut kalau Utami adalah korban pemerkosaan dan penganiayaan. “Korban diduga diperkosa. Korban diduga dibunuh dengan cara dicekik karena ada bekas hitam di lehernya. Kemarin dalam aksinya, pelaku juga menjarah barang milik korban seperti TV flat 12 inch, uang empat juta rupiah dan kalung lima gram yang dipakai korban.”

 

Utami Adalah Sosok Pintar dan Rajin

 

Penemuan mayat Utami jelas membuat pihak keluarga bersedih. Mereka tak habis pikir kenapa pelaku tega melakukan hal biadab itu pada sosok perempuan yang serba kekurangan. Hanya bisa mengenang sosok korban semasa hidup, Eka sendiri menjelaskan kalau adiknya itu adalah sosok yang pintar dan kreatif kendati tidak bisa bicara dan mendengar. Sembari berkaca-kaca, Eka pun mengingat sosok Utami dan menceritakannya kepada Tribun News.

 

“Beberapa kali dia dapat beasiswa. Anaknya juga pintar meskipun punya kekurangan. Dia juga penurut dan tidak menyusahkan. Dia sangat rajin serta mau mau bekerja. Kalau tiap pagi biasanya dia akan menyapu halaman rumah sampai bersih,” cerita Eka. Meskipun terlahir dalam kondisi tidak sempurna, Utami menjalani hidupnya dengan cerita. Terbiasa mandiri sejak kecil, Utami rupanya memakai angkutan umum saat berangkat dan pulang dari sekolah.

 

Dari cerita Eka, terungkap kalau Utami kini memiliki kegiatan melipat kertas untuk dipakai sebagai wadah produk, “Kertasnya itu ngambil dari orang lalu dilipat kalau dia sedang nganggur. Upahnya selalu disimpan, sepertinya terkumpul sekitar empat juta rupiah. Tapi uang itu hilang saat kejadian adik saya meninggal. Dia itu anaknya nggak pernah menghambur-hamburkan uang dan tak pernah meminta uang kepada keluarga.”

 

Polisi Bantul Buru Pelaku Pembunuh Utami

 

Atas kasus kematian Utami, kini jajaran kepolisian Sedayu pun melakukan perburuan pelaku. “Kami masih melakukan penyelidikan untuk memburu pelaku. Kejadian dewa poker tragis ini diduga terjadi Sabtu (18/11) pagi karena waktu kakak korban berkunjung jam sembilan, korban sudah tewas,” jelas Kompol Sugiarta.

 

Rasa sesak yang membuncah atas kematian putri mereka langsung membuat Suratijo benar-benar terpukul. Dalam keterangannya yang dilansir krjogja.com, Suratijo keluar dari rumah dan meninggalkan Utami pada pukul 05.30 pagi. “Saya sempat pamitan sama Denok (sebutan Utami) dan minta agar dia mengunci pintu. Pagi itu saya pergi ke pasar Gamping buat beli buah lalu saya jual keliling. Sejak dari lahir, Denok itu tuna rungu dan wicara. Kenapa pelaku tega berbuat seperti itu?” tanya Suratijo pilu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *